Jumat Taqwa SMAN 1 Amuntai Menguatkan Spiritualitas Menyambut Bulan Suci Ramadhan 2026
SMAN 1 Amuntai kembali melaksanakan agenda rutin Jum’at Taqwa pada 13 Februari 2026 yang bertempat di Lapangan Basket SMAN 1 Amuntai.
Kegiatan religius ini menjadi bagian penting dalam pembinaan karakter peserta
didik sekaligus ajang memperdalam pemahaman keagamaan, terlebih dalam rangka
menyambut Bulan Suci Ramadhan 2026.
Dengan mengusung tema “Marhaban Ya Ramadhan”, sekolah menghadirkan
narasumber Dr. Nashrullah Atha, Lc.,
M.H.I, yang memberikan tausiah penuh hikmah dan inspirasi.
Acara ini diikuti oleh seluruh peserta didik, dewan guru, serta staf SMAN 1
Amuntai. Sejak pagi hari, seluruh warga sekolah berkumpul
dengan tertib untuk mengikuti serangkaian kegiatan ibadah sebagai wujud
ketakwaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Kegiatan dimulai dengan pembacaan Asmaul Husna secara
bersama-sama, dilanjutkan dengan shalat
dhuha berjamaah sebagai salah satu bentuk ikhtiar mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Setelahnya, seluruh peserta membaca Surah Yasin yang dipimpin oleh Bapak Rahmanoor, S.Pd, diikuti
dengan penuh kekhusyukan.

Usai rangkaian ibadah tersebut, acara
dilanjutkan dengan tausiah keagamaan
yang disampaikan oleh Dr. Nashrullah Atha, Lc., M.H.I. Beliau menyampaikan
berbagai pesan moral dan spiritual yang relevan dengan kehidupan para pelajar,
khususnya tentang rasa syukur, adab kepada guru, nilai diri, dan pentingnya
mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.
Dalam pesannya, penceramah
mengawali dengan mengingatkan pentingnya bersyukur atas nikmat kehidupan dan
kesehatan.
“Alhamdulillah, di pagi hari ini
kita berada dalam keadaan sehat walafiat. Sehat adalah salah satu nikmat
terbesar dari Allah SWT, karena dengannya kita bisa belajar, beraktivitas, dan
menikmati kehidupan,” ungkap beliau.
Beliau kemudian memberikan
gambaran tentang betapa berharganya keberadaan guru dalam kehidupan manusia.
Tanpa guru, manusia tidak akan memiliki pengetahuan dan akan terjebak dalam
kebodohan. Guru adalah perantara ilmu dan cahaya yang menerangi jalan
kehidupan. Bahkan setelah wafat, amal jariyah seorang guru akan terus mengalir
melalui ilmu yang diajarkan.
Dr. Nashrullah juga menekankan
pentingnya nilai diri
seseorang. Beliau memberikan analogi menarik tentang perbandingan uang
Rp100.000 lama dengan Rp10.000 baru. Meskipun uang Rp100.000 itu lusuh atau
usang, nilainya tetap lebih tinggi.
“Nilai diri manusia bukan
ditentukan dari wajah, kekayaan, atau latar belakang keluarga. Nilai diri
ditentukan dari ilmu dan akhlaknya. Semakin tinggi ilmu kita, semakin tinggi
pula harga diri kita,” jelas beliau.
Beliau mengingatkan para peserta
didik untuk terus mengembangkan ilmu, baik ilmu umum maupun ilmu agama. Ilmu
agama, khususnya, menjadi pondasi utama agar seseorang memahami halal dan
haram, mengetahui mana yang baik dan buruk, serta mampu menjaga dirinya dari
perbuatan tercela.
Memasuki bagian tentang
Ramadhan, penceramah menyampaikan bahwa bulan suci ini adalah kesempatan emas
untuk meraih pahala berlipat ganda.
Puasa bukan hanya tentang
menahan makan dan minum, tetapi menjaga lisan,
pandangan, pendengaran, dan hati dari hal-hal yang dapat
mengurangi pahala.
“Puasa adalah perisai bagi diri
kita. Menjaga pahala lebih penting daripada sekadar menahan lapar. Hindari
dusta, gibah, dan ucapan sia-sia agar puasa kita bernilai di sisi Allah SWT,”
tuturnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa
Allah SWT memberikan berbagai “pekerjaan” kepada hamba-Nya melalui
ibadah-ibadah wajib. Setiap amalan memiliki ganjaran besar yang disiapkan di
akhirat. Oleh karena itu, Ramadhan hendaknya disambut dengan semangat,
kegembiraan, dan persiapan spiritual yang matang.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi
tanya jawab yang menarik. Para siswa terlihat antusias dalam mengajukan
pertanyaan.

1.
Pertanyaan dari Adelia Lestari: Bagaimana Cara Menjaga Iman di Bulan Ramadhan?
Dr. Nashrullah menjawab bahwa
iman adalah rasa keterhubungan antara manusia dengan Allah. Iman dapat dijaga
dengan memperbanyak ibadah, mendengarkan ceramah, membaca Al-Qur’an, dan
merasakan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas. Bila hati bergetar saat
mendengar azan, itu tanda iman yang kuat.

2.
Pertanyaan dari Naupal
Saubari: Hukum Puasa bagi Orang Sakit yang Harus Minum Obat
Beliau menegaskan bahwa jika
secara medis seseorang tidak diperbolehkan berpuasa, maka haram memaksakan diri untuk tetap
berpuasa. Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan tidak membahayakan. Seseorang
tetap mendapat pahala niat, dan dapat mengganti (qadha) puasa tersebut setelah
sembuh.

Sebagai penutup, kegiatan
diakhiri dengan doa bersama memohon keberkahan, kesehatan, dan kelancaran
segala urusan seluruh warga SMAN 1 Amuntai. Sekolah juga memberikan
kenang-kenangan kepada penceramah sebagai ucapan terima kasih atas ilmu, waktu,
dan bimbingan yang telah diberikan.
Kegiatan Jum’at Taqwa ini
diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan seluruh warga sekolah
serta menjadi bekal dalam menyambut Ramadhan dengan penuh kesiapan dan
kebahagiaan. (smansa/Rini Hartati)
