Kegiatan Jumat Taqwa Ramadhan 1447 Hijriah SMAN 1 Amuntai Bersama Ustadz Amirudin dari Dompet Al-quran
SMAN 1 Amuntai kembali
menyelenggarakan Kegiatan Jum’at Taqwa Ramadhan 1447 Hijriah
sebagai bagian dari pembinaan spiritual peserta didik selama bulan suci.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Jum’at, 27 Februari 2026,
bertempat di Musholla Subulussalam SMAN 1 Amuntai, dan diikuti
oleh seluruh pelajar, dewan guru, serta staf sekolah dengan penuh antusias.

Acara dimulai dengan pembacaan
Asmaul Husna secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah,
dilanjutkan dengan shalat dhuha berjamaah. Setelah itu,
seluruh peserta mengikuti pembukaan yang disampaikan oleh Kepala SMAN 1
Amuntai, Bapak Sukiman, S.Pd., MM. Dalam sambutannya, beliau
menekankan bahwa manusia harus belajar menerima ketetapan Allah SWT atas
hal-hal yang berada di luar kendali kita. Beliau juga mengajak para peserta
didik untuk tetap bersemangat dalam menjalankan ibadah puasa sekaligus menjaga
semangat belajar selama bulan Ramadhan.

Materi inti disampaikan oleh Ustadz
Amirudin dari Dompet Al-Qur’an. Beliau menyampaikan pesan penting agar
para siswa senantiasa bersyukur karena dapat hidup dan belajar di Indonesia,
sebuah negara yang dianugerahi keamanan, kenyamanan, dan suasana damai. Para
pelajar di sini dapat belajar, berkumpul dengan keluarga, dan menjalankan
ibadah tanpa rasa takut sebuah nikmat besar yang tidak dirasakan oleh semua
anak di dunia.
Ustadz kemudian membandingkan
kondisi tersebut dengan keadaan saudara-saudara kita di Palestina,
yang hingga kini masih berjuang menghadapi konflik, keterbatasan fasilitas
pendidikan, serta ancaman keselamatan yang terus menghantui kehidupan mereka.
Karena itu, rasa syukur harus diwujudkan melalui kesungguhan dalam belajar,
menjaga perilaku, menumbuhkan empati, serta mendoakan keselamatan bagi seluruh
umat manusia, termasuk anak-anak di Palestina.
Beliau juga membagikan kisah
tentang Abdurrahman Al-Masry, seorang anak dari Gaza Utara
yang menyaksikan sendiri kakek dan neneknya meninggal akibat serangan bom.
Keluarganya kemudian mendapat kesempatan tinggal di Indonesia setelah ayahnya
memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Depok. Kisah ini diharapkan
dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sekaligus memperdalam rasa syukur
para pelajar SMAN 1 Amuntai atas keamanan yang mereka rasakan.
Dalam ceramahnya, Ustadz
Amirudin juga menyampaikan tamsil yang menarik tentang ulat yang berubah
menjadi kepompong hingga menjadi kupu-kupu. Sebelum puasa, manusia diibaratkan
seperti ulat memiliki banyak kekurangan dan rentan terhadap keburukan. Ketika
memasuki bulan Ramadhan, manusia berada dalam fase kepompong, belajar menahan
diri dan memperbaiki perilaku. Setelah Ramadhan, manusia diharapkan berubah
menjadi pribadi yang lebih baik, indah, dan membawa manfaat bagi lingkungan,
layaknya kupu-kupu yang disenangi karena keindahannya.
Perumpamaan ini mengingatkan
bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengubah karakter
dan akhlak menjadi lebih baik.
Setelah ceramah, kegiatan
dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Beberapa
pertanyaan peserta didik dan guru memberikan wawasan yang semakin memperdalam
materi ceramah.
1. Pertanyaan dari Ansari
Ansari menyampaikan kebingungan
tentang bagaimana bersyukur ketika mendengar tragedi penculikan dan pembunuhan
di Palestina. Ustadz menjelaskan bahwa di dunia ini Allah menciptakan perbedaan
kaya dan miskin, menang dan kalah, siang dan malam—semuanya mengandung hikmah.
Perbedaan memberi peluang bagi manusia untuk saling membantu, bersedekah,
bersabar, dan bersyukur. Takdir Allah adalah sesuatu yang tidak dapat kita
kendalikan, tetapi pikiran, perasaan, dan tindakan kita adalah hal yang bisa
kita upayakan.
2. Pertanyaan dari Bapak H.
Rusmawardi, S.Pd., MM
Beliau menanyakan kondisi
Abdurrahman al-Masry dan keluarganya saat kejadian bom. Ustadz menjelaskan
bahwa malam dan pagi setelah peristiwa tersebut, keluarga Abdurrahman
kehilangan kakek dan neneknya. Namun Allah memberi rezeki sehingga ayahnya
dapat melanjutkan pendidikan di Indonesia. Kini Abdurrahman dan keluarganya
tinggal di Indonesia dan menjalankan safari dakwah ke sejumlah wilayah,
termasuk Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, dan Sumatera.
3. Pertanyaan dari Bapak Ahmad
Zaini, S.Pd
Pertanyaan pertama mengenai
pembentukan Board of Peace di Indonesia. Ustadz menyampaikan bahwa
Indonesia memiliki niat baik dan strategi untuk turut mendukung perdamaian di
Palestina.
Pertanyaan kedua yaitu bagaimana
siswa SMAN 1 Amuntai dapat mencintai Al-Qur’an meskipun berada di sekolah umum.
Ustadz menjelaskan bahwa kemuliaan Al-Qur’an begitu besar. Seseorang yang
mencintai Al-Qur’an akan dimuliakan Allah, setiap huruf yang dibaca bernilai
sepuluh kebaikan, dan Al-Qur’an membersihkan hati serta mengangkat derajat
pembacanya.
4. Pertanyaan dari Hudaibil Nazima
Nazima bertanya tentang
perumpamaan puasa seperti ular dan ulat. Ustadz menjelaskan bahwa segala amal
tergantung niatnya. Jika niat berpuasa adalah untuk pamer, maka itulah yang didapat.
Namun jika niatnya ikhlas karena Allah, maka puasa tersebut menjadi ibadah yang
bernilai. Keindahan akhlak yang lahir dari ibadah adalah bonus yang datang
secara alami kepada mereka yang tulus dalam beribadah.
Kegiatan ditutup dengan doa
bersama. Para pelajar tampak sangat antusias dan merasakan manfaat yang besar
dari kegiatan ini. Jum’at Taqwa Ramadhan 1447 Hijriah tidak hanya menguatkan
spiritualitas, tetapi juga menumbuhkan empati, rasa syukur, dan semangat untuk
mencintai Al-Qur’an serta memperbaiki diri.
SMAN 1 Amuntai berharap kegiatan
keagamaan seperti ini dapat terus menjadi sarana pembentukan karakter Islami
sekaligus menanamkan nilai moral mulia kepada seluruh peserta didik. (smansa/Rini
Hartati)
