IHT Transformasi Digital SMAN 1 Amuntai Penguatan Budaya G7kaih dalam Pembelajaran Abad 21 Menuju Sekolah Berbudaya Aman dan Nyaman Tahun Ajaran 2026/2027
SMAN 1 Amuntai kembali menunjukkan komitmennya
dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui pelaksanaan In House
Training (IHT) Transformasi Digital dan Penguatan Budaya G7kaih dalam
Pembelajaran Abad 21, yang digelar pada Kamis, 09 April 2026 bertempat di
Laboratorium Kimia SMAN 1 Amuntai. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dewan guru
dan staf, serta menghadirkan Pengawas SMA, Ibu Hj. Ida Hariyani, S.Pd., M.Pd,
sebagai narasumber utama.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala SMAN 1
Amuntai, Bapak Sukiman, S.Pd., M.M, yang menyampaikan apresiasi mendalam kepada
narasumber yang telah berkenan memenuhi undangan sekolah. Dalam sambutannya,
beliau menegaskan bahwa banyak aspek di sekolah yang perlu terus dibenahi,
terutama yang bersifat unlimited seperti kualitas iklim sekolah dan
kultur budayanya. Menurut beliau, budaya kreativitas dan inovasi merupakan
jalur satu pintu untuk meraih keberhasilan, sehingga penting untuk dibangun
secara konsisten di lingkungan sekolah. Ia juga menekankan pentingnya membangun
suasana belajar yang menggembirakan, berkesadaran, serta mampu menumbuhkan
pemahaman yang baik bagi seluruh peserta didik.

Materi inti kegiatan disampaikan oleh Ibu Hj. Ida
Hariyani, S.Pd., M.Pd, yang memaparkan tentang urgensi transformasi digital di
satuan pendidikan serta pentingnya penguatan budaya G7kaih, yaitu tujuh
kebiasaan baik anak Indonesia:
- Bangun
pagi
- Beribadah
- Berolahraga
- Makan
sehat dan bergizi
- Gemar
belajar
- Bermasyarakat
- Tidur
cepat
Beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi
yang begitu cepat menuntut sekolah untuk lebih adaptif, inovatif, serta
memiliki budaya positif yang menguatkan karakter peserta didik. Simbol G7kaih
sendiri diuraikan secara filosofis, mulai dari kepala berwarna biru yang
melambangkan semangat belajar sepanjang hayat, badan berwarna hijau yang
mencerminkan kesehatan fisik dan emosional, hingga bola cahaya emas
sebagai lambang moralitas dan kesuksesan yang menerangi perjalanan menuju masa
depan Indonesia.
Dalam sesi berikutnya, narasumber menjabarkan
manfaat, cara penerapan, serta peran guru dan satuan pendidikan dalam
menanamkan masing-masing kebiasaan G7kaih.
Beberapa di antaranya yaitu:
- Bangun
pagi: meningkatkan fokus, disiplin, kesehatan mental, serta mendukung
keberhasilan akademik. Guru berperan sebagai teladan, pembimbing,
motivator, dan evaluator; sementara sekolah perlu menetapkan kebijakan dan
bekerja sama dengan orang tua.
- Beribadah:
memperkuat nilai spiritual, etika, dan tujuan hidup. Penerapan dilakukan
melalui integrasi nilai agama dalam pembelajaran, kegiatan keagamaan,
serta penyediaan sarana ibadah yang memadai.
- Berolahraga:
menjaga kesehatan fisik dan mental, meningkatkan sportivitas dan potensi
diri. Sekolah didorong untuk menyediakan kegiatan rutin seperti senam
pagi, turnamen olahraga, hingga kolaborasi bersama orang tua.
- Makan
sehat dan bergizi: membangun kesadaran gizi, memastikan tubuh dan pikiran
siap belajar, serta membentuk kemandirian anak. Implementasinya meliputi
edukasi gizi, program sarapan sehat, hingga kerja sama dengan kantin
sekolah.
- Gemar
belajar: menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir
kritis. Penerapan dilakukan melalui pembiasaan membaca, teknologi
pembelajaran, kelompok belajar, dan metode belajar yang menyenangkan.
- Bermasyarakat:
menumbuhkan gotong royong, toleransi, tanggung jawab, serta kebahagiaan
melalui interaksi sosial. Kegiatan dapat berupa bakti sosial, permainan
tradisional, dan kolaborasi dengan orang tua serta komunitas.
- Tidur
cepat: menjaga kesehatan fisik dan mental, meningkatkan konsentrasi, dan
membangun pola hidup seimbang. Guru harus memberi contoh dengan tidak
memberikan tugas berlebihan, sementara sekolah dan orang tua memantau pola
tidur peserta didik.
Selain itu, narasumber juga menyoroti Prinsip 3S
dalam penggunaan gawai:
- Screen
Time (mengatur durasi penggunaan),
- Screen
Zone (menetapkan area bebas gawai), dan
- Screen
Break (memberikan jeda saat beraktivitas).
Prinsip ini penting diterapkan agar siswa dapat
memanfaatkan teknologi secara sehat dan proporsional.
Melalui kegiatan IHT ini, seluruh guru dan staf
SMAN 1 Amuntai diharapkan mampu bergerak bersama membangun kebiasaan baik yang
tidak hanya menguatkan diri sendiri, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan
sekolah. Transformasi digital dan budaya G7kaih menjadi fondasi penting dalam
mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, berkarakter, serta siap menghadapi
perkembangan pendidikan abad 21.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai
bentuk kebersamaan dan komitmen seluruh warga sekolah untuk menjalankan
transformasi menuju SMAN 1 Amuntai yang lebih maju, inovatif, dan berbudaya
positif. (smansa/Rini Hartati)
