BERITA


IHT Penyusunan Perangkat Ajar Pembelajaran Mendalam dan Penguatan Persiapan TKA serta Asesmen Nasional SMAN 1 Amuntai

SMAN 1 Amuntai, 13 Agustus 2026 – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran terus dilakukan oleh SMAN 1 Amuntai melalui berbagai kegiatan pengembangan kompetensi guru. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan In House Training (IHT) Penyusunan Perangkat Ajar Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menuju Budaya Sekolah Aman dan Nyaman serta Penguatan Persiapan Pelaksanaan TKA dan Asesmen Nasional Tahun Ajaran 2026/2027.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, bertempat di Laboratorium Biologi SMAN 1 Amuntai. Kegiatan diikuti oleh seluruh dewan guru dan staf SMAN 1 Amuntai dengan menghadirkan Pengawas SMA, Ibu Hj. Ida Hariyani, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para pendidik untuk memperkuat pemahaman mengenai pembelajaran mendalam, mengembangkan perangkat ajar yang terintegrasi dengan teknologi digital, memahami Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), serta mengoptimalkan pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan.

Perkembangan dunia pendidikan yang semakin dinamis menuntut guru untuk terus melakukan pengembangan diri. Guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu merancang pengalaman belajar yang membuat peserta didik aktif berpikir, memahami konsep, berdiskusi, mencoba, serta menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan IHT ini, SMAN 1 Amuntai berupaya membangun pemahaman bersama bahwa kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kualitas proses pembelajaran di kelas.

Perangkat ajar yang disusun guru diharapkan tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar menjadi panduan yang membantu guru menciptakan pembelajaran yang terarah, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Kegiatan diawali dengan sambutan dan arahan dari Kepala SMAN 1 Amuntai, Bapak Sukiman, S.Pd., MM.

Dalam arahannya, Kepala Sekolah menyampaikan pentingnya peran guru dalam mendampingi peserta didik agar mampu menghasilkan karya berdasarkan proses pembelajaran yang mereka jalani selama satu semester.

Beliau meminta para guru untuk memberikan pendampingan kepada peserta didik dalam menyusun karya ilmiah sederhana atau skripsi sederhana dengan sistematika yang disesuaikan dengan kemampuan siswa.

Gagasan tersebut dimaksudkan sebagai upaya memperkenalkan peserta didik pada proses berpikir dan bekerja secara ilmiah. Siswa diharapkan dapat mengambil topik yang berkaitan dengan proses pembelajaran selama satu semester, termasuk pengalaman yang mereka peroleh melalui kegiatan kokurikuler.

Dengan demikian, berbagai aktivitas pembelajaran yang dilakukan siswa tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi dapat didokumentasikan, dikembangkan, dan dituangkan dalam bentuk karya tulis.

Pengenalan karya ilmiah sederhana kepada peserta didik diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan keterampilan berpikir.

Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat belajar menentukan topik, mengidentifikasi permasalahan, mencari informasi, melakukan pengamatan, mengolah data atau informasi, menyusun pembahasan, hingga menarik kesimpulan.

Proses tersebut akan memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga dilatih untuk mencari dan mengolah informasi secara mandiri.

Guru dalam hal ini berperan sebagai pendamping dan fasilitator yang membantu siswa ketika mengalami kesulitan dalam proses penyusunan karya.

Setelah arahan Kepala Sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Pengawas SMA Ibu Hj. Ida Hariyani, S.Pd., M.Pd.

Materi yang disampaikan berfokus pada Penyusunan Perangkat Ajar Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menuju Budaya Sekolah Aman dan Nyaman serta Penguatan Persiapan Pelaksanaan TKA dan Asesmen Nasional Tahun Ajaran 2026/2027.

Dalam sesi tersebut, para guru diajak untuk memahami bagaimana perangkat pembelajaran dapat dirancang agar mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna kepada peserta didik.

Pembelajaran mendalam mendorong siswa untuk tidak sekadar menghafal informasi, tetapi memahami konsep, menghubungkan pengetahuan, berpikir kritis, melakukan refleksi, serta menerapkan pengetahuan dalam berbagai situasi.

Pendekatan tersebut membutuhkan perencanaan pembelajaran yang baik. Oleh sebab itu, guru perlu menyusun perangkat ajar dengan mempertimbangkan tujuan pembelajaran, aktivitas peserta didik, metode pembelajaran, penggunaan media, serta proses asesmen.

Salah satu pembahasan penting dalam IHT adalah mengenai penyusunan perangkat pembelajaran mendalam yang terintegrasi dengan teknologi digital.

Perkembangan teknologi memberikan banyak peluang bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif. Penggunaan teknologi dapat membantu guru menyajikan materi, menampilkan berbagai sumber belajar, memfasilitasi diskusi, melakukan eksplorasi, maupun memberikan pengalaman belajar yang lebih variatif.

Namun, teknologi bukanlah tujuan utama pembelajaran. Teknologi digunakan sebagai alat untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.

Karena itu, guru perlu mempertimbangkan kapan teknologi digunakan dan kapan metode pembelajaran lainnya lebih tepat diterapkan. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat nyata bagi proses belajar peserta didik.

Dalam kegiatan IHT, para guru juga mendapatkan pengenalan mengenai Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).

SPMI menjadi bagian penting dalam membangun budaya mutu di lingkungan sekolah. Peningkatan mutu pendidikan membutuhkan proses yang dilakukan secara terencana, terukur, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Melalui pemahaman mengenai SPMI, seluruh warga sekolah diharapkan memiliki kesadaran bahwa mutu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Guru memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pembelajaran, sedangkan sekolah menyediakan lingkungan yang mendukung agar proses peningkatan mutu dapat berjalan secara konsisten.

Materi lainnya adalah mengenai pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) dalam mendukung pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.

Papan interaktif digital dapat menjadi salah satu media yang membantu guru menciptakan proses pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Materi dapat ditampilkan secara visual sehingga memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam bagi peserta didik.

Namun demikian, penggunaan PID tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Media digital hendaknya digunakan secara tepat dan tidak sekadar menjadi pelengkap.

Guru perlu memastikan bahwa setiap penggunaan teknologi memiliki tujuan yang jelas dan membantu peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi ini memberikan kesempatan kepada para guru untuk menyampaikan pertanyaan, pengalaman, maupun hal-hal yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Ibu Sri Maulina, S.Pd. Beliau mengangkat pembahasan mengenai metode ceramah dalam proses pembelajaran.

Dalam pertanyaannya, beliau menyampaikan bahwa selama ini terdapat pemahaman bahwa pembelajaran perlu dibuat aktif sehingga metode ceramah dianggap tidak lagi terlalu diperlukan. Namun, berdasarkan beberapa sumber yang beliau baca, ceramah atau penjelasan langsung dari guru tetap memiliki peran penting dalam pembelajaran.

Pertanyaan tersebut kemudian dijelaskan oleh Ibu Hj. Ida Hariyani, S.Pd., M.Pd.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ibu Ida menjelaskan bahwa ceramah tetap dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Namun, penggunaannya perlu memiliki takaran dan tidak mendominasi keseluruhan waktu pembelajaran.

Sebagai contoh, dalam alokasi pembelajaran 2 × 45 menit, guru dapat menggunakan sekitar 10 menit pertama untuk memberikan penjelasan atau pengantar materi.

Ceramah yang dimaksud bukanlah guru berbicara sepanjang pembelajaran tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat. Ceramah atau penjelasan guru tetap diperlukan untuk memberikan konteks, mengarahkan pemahaman, menjelaskan konsep penting, atau memberikan pengantar sebelum siswa melakukan aktivitas lainnya.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada boleh atau tidaknya metode ceramah digunakan, tetapi bagaimana guru mampu menggunakannya secara proporsional dan efektif.

Guru tetap dapat memberikan penjelasan secara langsung, tetapi setelah itu peserta didik perlu diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas pembelajaran lainnya, seperti berdiskusi, mengamati, bertanya, mencoba, memecahkan masalah, membuat karya, maupun melakukan refleksi.

Pembahasan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam kegiatan IHT karena memberikan pemahaman bahwa pembelajaran aktif bukan berarti guru sama sekali tidak boleh memberikan penjelasan.

Guru tetap memiliki peran penting sebagai sumber informasi dan pengarah pembelajaran. Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara penjelasan guru dan aktivitas peserta didik.

Pembelajaran yang baik memberikan ruang kepada guru untuk mengajar dan memberikan arahan, sekaligus memberikan kesempatan yang cukup kepada peserta didik untuk belajar secara aktif.

Dengan pendekatan tersebut, kelas tidak hanya menjadi tempat guru menyampaikan materi, tetapi menjadi ruang interaksi dan proses belajar bersama.

Pembelajaran mendalam pada akhirnya mengarah pada proses belajar yang memberikan kesempatan lebih besar kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif.

Siswa diharapkan mampu memahami apa yang dipelajari, menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman, serta mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.

Guru menjadi pengarah yang merancang lingkungan belajar agar siswa dapat berkembang secara optimal.

Hal ini juga sejalan dengan arahan Kepala Sekolah agar peserta didik diberikan kesempatan untuk menghasilkan karya ilmiah sederhana. Kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan menghasilkan produk dari proses belajarnya.

Kegiatan IHT juga memiliki keterkaitan erat dengan upaya SMAN 1 Amuntai dalam membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Pembelajaran yang berkualitas membutuhkan lingkungan yang mendukung. Peserta didik akan lebih mudah belajar dan berkembang ketika mereka merasa aman, dihargai, dan mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi.

Guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang positif. Interaksi yang baik antara guru dan peserta didik, komunikasi yang santun, penghargaan terhadap pendapat, serta kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi menjadi bagian dari proses membangun sekolah yang aman dan nyaman.

Dengan demikian, peningkatan kualitas pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan metode dan teknologi, tetapi juga dengan budaya interaksi yang dibangun di dalam lingkungan sekolah.

IHT juga diarahkan untuk mendukung persiapan sekolah dalam menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional Tahun Ajaran 2026/2027.

Persiapan tidak hanya dilakukan melalui latihan soal, tetapi juga melalui pembelajaran yang membangun kemampuan dasar peserta didik secara berkelanjutan.

Pembelajaran mendalam dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, melakukan penalaran, memecahkan masalah, dan menerapkan pengetahuan.

Dengan demikian, kualitas pembelajaran sehari-hari menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi berbagai bentuk evaluasi pendidikan.

Selain mendapatkan materi baru, kegiatan IHT juga memberikan ruang kepada para guru untuk berbagi pengalaman dan mendiskusikan praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan.

Sesi tanya jawab menunjukkan bahwa para guru memiliki perhatian yang besar terhadap bagaimana pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif di kelas.

Pertanyaan yang muncul dari guru menjadi bagian penting dalam proses pengembangan profesional. Melalui diskusi, guru dapat melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang dan menemukan alternatif solusi yang sesuai dengan kondisi peserta didik.

Hal tersebut menjadi salah satu manfaat penting dari kegiatan IHT, yaitu membangun budaya belajar bersama di antara para pendidik.

Pelaksanaan IHT Penyusunan Perangkat Ajar Pembelajaran Mendalam di SMAN 1 Amuntai merupakan salah satu bentuk komitmen sekolah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan.

Guru diharapkan dapat menerapkan hasil kegiatan ini dalam proses pembelajaran di kelas, mulai dari penyusunan perangkat ajar, pemilihan metode, penggunaan teknologi, hingga pengembangan aktivitas belajar peserta didik.

Sementara itu, sekolah terus berupaya memberikan dukungan agar guru dapat mengembangkan inovasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Kolaborasi antara pimpinan sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah menjadi kunci agar program peningkatan mutu dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kelengkapan perangkat pembelajaran, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam menghadirkan proses belajar yang bermakna serta membangun hubungan positif dengan peserta didik.

Dengan semangat belajar bersama, berinovasi, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan, SMAN 1 Amuntai terus melangkah mewujudkan pembelajaran yang mendalam, berkualitas, serta lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang setiap peserta didik. (smansa/Rini Hartati)

Pencarian

Video PPDB

PPDB

Kalender

Agustus 2026

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31