SMAN 1 Amuntai Ikuti Sosialisasi Bahaya Radikalisme dan Pencegahan Narkoba bagi Generasi Muda
SMAN 1 Amuntai – Selasa, 15 September 2026 .Upaya membangun generasi muda yang berkarakter, berwawasan, serta mampu menjauhi berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan terus dilakukan di lingkungan pendidikan. Salah satunya melalui kegiatan Sosialisasi Bahaya Radikalisme, Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba kepada Generasi Muda yang dilaksanakan di Laboratorium Biologi SMAN 1 Amuntai.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu K.H. Syamsul Arifin, Kepala Komisi Dakwah MUI HSU, dan H. Said Maskawan, M.A., Ketua MUI HSU. Kegiatan diikuti oleh perwakilan peserta didik SMAN 1 Amuntai dengan didampingi oleh guru pendamping serta perwakilan dari Kesbangpol HSU.
Sosialisasi tersebut menjadi kesempatan penting bagi para siswa untuk memperoleh pemahaman mengenai bahaya narkoba sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap paham-paham yang dapat berkembang secara tidak sehat di lingkungan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SMAN 1 Amuntai, Bapak Sukiman, S.Pd., MM. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada para narasumber dari MUI HSU serta perwakilan Kesbangpol HSU yang telah hadir dan memberikan pembinaan kepada peserta didik.
Menurut beliau, kegiatan seperti ini sangat penting karena siswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademik, tetapi juga pemahaman mengenai berbagai tantangan yang dapat memengaruhi masa depan mereka.
Kepala sekolah berharap para peserta yang mengikuti kegiatan dapat menjadi pionir dalam menyebarkan informasi mengenai bahaya narkoba kepada teman-teman dan siswa lainnya di lingkungan SMAN 1 Amuntai.
Dengan demikian, informasi yang diperoleh dalam kegiatan tidak berhenti pada peserta yang hadir saja, tetapi dapat diteruskan kepada lingkungan sekolah secara lebih luas.
Beliau juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam pembinaan karakter peserta didik. Pendidikan karakter membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar siswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki nilai agama, moral, dan adab yang kuat.


Setelah sambutan kepala sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian arahan dari perwakilan Kesbangpol HSU, yaitu Ibu Masiati Masud dan Bapak Amberani, S.H., M.H.
Dalam penyampaiannya, dijelaskan bahwa persoalan penyalahgunaan narkoba masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan secara bersama-sama, khususnya dengan melibatkan generasi muda dan lingkungan pendidikan.
Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 2026. Kegiatan tersebut disebut sebagai kegiatan ke-7 dari target 9 kali sosialisasi yang dilaksanakan di HSU sepanjang tahun 2026.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung target HSU Bebas Narkoba, sebagaimana diarahkan oleh Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara di bawah kepemimpinan Bupati HSU, Bapak Sahrujani.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diingatkan mengenai adanya berbagai kasus penyalahgunaan zat berbahaya di masyarakat. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penyalahgunaan kecubung yang dalam beberapa kasus telah menyebabkan korban harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para siswa bahwa berbagai zat yang disalahgunakan dapat membawa dampak serius terhadap kesehatan, kehidupan sosial, pendidikan, serta masa depan seseorang.
Selain membahas bahaya narkoba, peserta juga mendapatkan motivasi mengenai bagaimana mempersiapkan diri untuk meraih kesuksesan di usia muda.
Beberapa hal yang ditekankan antara lain pentingnya:
- Disiplin dan konsisten, dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil.
- Mengatur waktu secara efektif agar kegiatan belajar dan aktivitas lainnya dapat berjalan seimbang.
- Berani mengambil risiko yang terukur dalam menghadapi tantangan.
- Fokus pada solusi, bukan hanya pada masalah.
- Membangun relasi yang positif dengan lingkungan sekitar.
- Dan yang paling penting, menjauhi narkoba.
Pesan tersebut mengingatkan siswa bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kebiasaan baik, kedisiplinan, lingkungan pergaulan, serta kemampuan mengambil keputusan yang tepat.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan informasi mengenai lomba penulisan artikel tentang narkoba yang dapat menjadi ruang bagi siswa untuk menuangkan gagasan dan kepedulian mereka terhadap persoalan penyalahgunaan narkoba.
Peserta didik SMAN 1 Amuntai yang mengikuti lomba tersebut masih tergolong minim. Oleh sebab itu, siswa didorong untuk lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan positif yang dapat meningkatkan kemampuan menulis sekaligus memberikan kontribusi dalam menyebarkan edukasi mengenai bahaya narkoba.
Informasi mengenai lomba dan kegiatan lainnya dapat dipantau melalui website Kesbangpol HSU agar siswa tidak ketinggalan informasi mengenai kesempatan dan program yang tersedia.
Memasuki sesi materi, K.H. Syamsul Arifin, Kepala Komisi Dakwah MUI HSU, menyampaikan materi dengan tema “Khamar Dulu dan Sekarang.”
Dalam penyampaiannya, beliau mengajak para siswa untuk memahami persoalan narkoba dan zat yang memengaruhi akal dari perspektif keagamaan.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan perhatian terhadap generasi yang lemah. Kelemahan tersebut dapat berkaitan dengan iman, ekonomi, maupun pendidikan. Karena itu, generasi muda perlu dipersiapkan agar memiliki kekuatan iman, ilmu, pendidikan, dan karakter.
Narkoba disebut sebagai salah satu ancaman serius bagi generasi muda karena penyalahgunaannya dapat memengaruhi kesehatan, akal, hubungan sosial, pendidikan, dan masa depan seseorang.
Dalam penjelasan mengenai khamar, secara bahasa istilah tersebut bermakna sesuatu yang menutupi. Dalam konteks pembahasan keagamaan, segala sesuatu yang dapat menutupi atau mengacaukan fungsi akal menjadi perhatian serius.
Beliau juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan berbagai zat yang dapat memengaruhi kesadaran dan akal, termasuk minuman keras, narkoba, serta bahan lain yang disalahgunakan.
Dijelaskan pula bahwa pada masa lalu khamar pernah dipandang memiliki manfaat tertentu. Namun, Al-Qur'an menegaskan bahwa mudarat atau dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Penjelasan tersebut menjadi dasar penting bagi generasi muda untuk memahami bahwa sesuatu yang memberikan kesenangan sesaat tidak selalu membawa manfaat bagi kehidupan dalam jangka panjang.
Materi berikutnya juga mengingatkan siswa agar memiliki sikap kritis dan bijak dalam memahami ajaran agama.
Para peserta diingatkan untuk waspada terhadap paham keagamaan yang berkembang secara intoleran, seperti sikap suka memaksakan pendapat, mudah berburuk sangka, serta memaksakan persoalan khilafiyah masa lalu tanpa memahami konteks dan perbedaan pendapat secara bijaksana.
Dalam kehidupan sehari-hari, siswa diharapkan mampu mengembangkan sikap saling menghargai, terbuka terhadap perbedaan, dan tidak mudah menerima informasi tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.
Salah satu kunci pencegahan yang disampaikan adalah meningkatkan pemahaman keagamaan yang benar dan bijak dalam memilih teman.
Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karakter anak muda. Karena itu, siswa perlu membangun pertemanan yang sehat, saling mendukung dalam kegiatan positif, serta berani menjauh dari lingkungan yang dapat membawa kepada perilaku negatif.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada narasumber.
Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Hafiz Maulana, yang menanyakan mengenai upaya yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga agar anggota keluarga tidak terlibat narkoba.
Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber menekankan bahwa upaya pencegahan dapat dimulai dari lingkungan keluarga.
Keluarga perlu membangun komunikasi yang baik dan keterbukaan. Anak perlu memiliki ruang untuk bercerita dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Dengan komunikasi yang sehat, keluarga dapat lebih cepat mengetahui apabila terdapat persoalan yang dihadapi anak.
Peserta juga diajak untuk menjadi duta bersih narkoba di rumah, bukan hanya di lingkungan sekolah. Artinya, siswa dapat ikut menyampaikan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga dan orang-orang terdekat.
Dalam sesi tanya jawab juga muncul pembahasan mengenai wanita karier dan keluarga sakinah.
Narasumber menjelaskan pentingnya membangun keluarga dengan prinsip komunikasi, keterbukaan, dan komitmen. Ketika muncul persoalan dalam keluarga, penyelesaian sebaiknya dilakukan melalui komunikasi dan cara-cara yang bijaksana.
Apabila diperlukan, persoalan dapat dikonsultasikan melalui bimbingan Islami atau mediasi. Untuk persoalan yang berat, keluarga dianjurkan untuk meminta bantuan kepada pihak yang memiliki keahlian agar penyelesaiannya dapat dilakukan secara tepat.
Pembahasan tersebut juga menekankan pentingnya menghindari sikap yang berlebihan atau keputusan yang diambil tanpa pemahaman dan ilmu yang cukup.
Pada bagian akhir kegiatan, Ibu Masiati Masud menyampaikan sejumlah kesimpulan sekaligus motivasi kepada para siswa.
Peserta didik diajak untuk rajin belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan baik. Kesuksesan membutuhkan perpaduan antara usaha, doa, kesempatan, dan proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Siswa juga disarankan mulai mempersiapkan portofolio pribadi, termasuk menyimpan piagam penghargaan dan berbagai bukti prestasi dalam hard folder. Kebiasaan tersebut dapat membantu siswa ketika kelak melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Para siswa juga didorong untuk memiliki cita-cita besar. Keinginan menjadi pemimpin, seperti presiden, bupati, menteri, atau profesi lainnya bukanlah sesuatu yang perlu dibatasi. Namun, cita-cita tersebut harus disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar.
Penguasaan bahasa asing juga menjadi salah satu hal yang disampaikan sebagai bekal masa depan. Siswa didorong untuk memperkuat kemampuan Bahasa Inggris dan Mandarin, mengingat kemampuan bahasa dapat menjadi salah satu bekal dalam menghadapi berbagai peluang pendidikan dan pekerjaan.
Pesan lain yang disampaikan adalah pentingnya mengatur waktu, termasuk membangun kebiasaan tidur dan belajar yang teratur. Siswa diingatkan agar menggunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar dan mengembangkan diri.
Salah satu nasihat yang disampaikan dan cukup sederhana tetapi bermakna adalah:
“Ulun mau jadi orang biasa, tetapi harus jadi orang baik.”
Pesan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur dari jabatan atau popularitas. Menjadi orang yang baik, beradab, jujur, dan bermanfaat bagi orang lain merupakan nilai yang tidak kalah penting dalam kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, siswa juga diingatkan mengenai pentingnya adab. Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan siswa pintar, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki sopan santun, menghormati guru, menghargai orang lain, dan mampu menempatkan diri dengan baik.
Peserta didik juga diajak untuk kembali mencintai buku dan perpustakaan. Buku menjadi sumber pengetahuan yang dapat membuka wawasan dan membantu siswa memahami dunia secara lebih luas.
Pesan yang disampaikan secara sederhana adalah bahwa buku dan ilmu perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam kehidupan pelajar. Perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi ruangan yang ada di sekolah, tetapi benar-benar menjadi tempat yang hidup dan dimanfaatkan oleh siswa.
Kegiatan Sosialisasi Bahaya Radikalisme, Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba kepada Generasi Muda di SMAN 1 Amuntai menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran peserta didik mengenai berbagai tantangan yang dapat mengancam masa depan generasi muda.
Melalui materi yang disampaikan oleh MUI HSU, siswa mendapatkan penguatan dari sisi keagamaan dan pembentukan karakter. Sementara melalui Kesbangpol HSU, peserta mendapatkan informasi mengenai pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkoba serta peran generasi muda dalam mendukung lingkungan yang bersih dari narkoba.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pencegahan narkoba dan pembentukan karakter tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama antara sekolah, keluarga, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.
Para peserta diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan positif tersebut dengan dimulai dari diri sendiri, keluarga, teman, dan lingkungan sekolah.
Jauhi narkoba, bijak dalam memilih pergaulan, perkuat ilmu dan iman, serta terus membangun masa depan dengan disiplin dan karakter yang baik.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, sebagai bentuk harapan agar seluruh peserta didik SMAN 1 Amuntai senantiasa diberikan perlindungan, kesehatan, kemudahan dalam belajar, serta kekuatan untuk menjadi generasi muda yang berprestasi, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat. (smansa/Ahmad Zaini)
