Pembinaan Pengawas Pembina SMA/SMK di SMAN 1 Amuntai Memperkuat Peran Guru Wali dan Budaya Mutu Sekolah
SMAN 1 Amuntai – Jum’at, 18 September 2026. Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga bagaimana sekolah mampu memberikan pendampingan yang baik kepada setiap peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam mengenali karakter siswa, memahami kebutuhan mereka, serta membantu ketika peserta didik menghadapi berbagai persoalan dalam proses pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.
Dalam rangka memperkuat peran tersebut, SMAN 1 Amuntai melaksanakan kegiatan Pembinaan Pengawas Pembina SMA/SMK, Hj. Ida Hariyani, M.Pd., pada Jum’at, 18 September 2026. Kegiatan bertempat di Laboratorium Kompoter 4 SMAN 1 Amuntai dan diikuti oleh seluruh dewan guru SMAN 1 Amuntai.
Pembinaan ini membahas sejumlah hal penting yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas guru, terutama mengenai program Guru Wali dan SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal). Kedua hal tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kualitas layanan pendidikan sekaligus membangun budaya mutu di lingkungan sekolah.
Kegiatan berlangsung dalam suasana serius namun tetap komunikatif. Para guru mendapatkan berbagai arahan, contoh, serta penguatan yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, khususnya dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala SMAN 1 Amuntai, Bapak Sukiman, S.Pd., MM.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pembinaan pada kesempatan tersebut memiliki fokus utama pada Guru Wali, terutama berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab profesional guru sebagai pendidik.
Menurut beliau, tugas seorang guru merupakan tugas yang besar dan tidak terbatas pada kegiatan menyampaikan materi pelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab dalam membantu membentuk karakter, mendampingi perkembangan, serta memahami kondisi setiap peserta didik.
Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Ada siswa yang memiliki karakter sabar dan tenang, tetapi ada pula yang mudah marah, memiliki perilaku agresif, bahkan terkadang berkata kasar. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari karakteristik peserta didik yang perlu dipahami oleh guru.
Karena itu, guru perlu mengenali karakter setiap anak secara lebih dekat.
Guru tidak dapat menggunakan pendekatan yang sama kepada seluruh siswa. Seorang siswa mungkin dapat menerima nasihat secara langsung, sementara siswa lainnya membutuhkan pendekatan yang lebih perlahan dan personal.
“Sekarang adanya Guru Wali yang harus memberikan pendampingan, memberikan identifikasi permasalahan yang dihadapi siswa, dan memberikan bimbingan secara optimal,” menjadi salah satu penekanan dalam sambutan kepala sekolah.
Pemahaman terhadap karakter siswa diharapkan dapat membantu guru menentukan bentuk pendampingan yang tepat. Dengan begitu, siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik, tetapi juga mendapatkan perhatian terhadap perkembangan dirinya.


Program Guru Wali menjadi salah satu fokus utama dalam pembinaan yang disampaikan oleh Hj. Ida Hariyani, M.Pd.
Dalam pelaksanaannya, Guru Wali diharapkan dapat menjadi salah satu pihak yang memiliki kedekatan komunikasi dengan peserta didik. Guru Wali dapat membantu mengidentifikasi kondisi siswa, memberikan pendampingan awal, serta mengarahkan siswa ketika menghadapi permasalahan.
Peran tersebut membutuhkan kepedulian dan konsistensi. Guru Wali perlu mengenal siswa yang menjadi tanggung jawabnya, bukan hanya dari nilai akademik, tetapi juga dari kebiasaan, karakter, interaksi sosial, serta perkembangan mereka selama berada di sekolah.
Dengan mengenal siswa secara lebih baik, guru dapat lebih mudah melihat perubahan yang mungkin terjadi pada diri peserta didik.
Misalnya, siswa yang biasanya aktif tiba-tiba menjadi pendiam, siswa yang sebelumnya rajin mulai mengalami penurunan motivasi belajar, atau siswa yang mengalami perubahan perilaku dalam berinteraksi dengan teman maupun guru.
Perubahan seperti itu dapat menjadi tanda bahwa siswa membutuhkan perhatian atau pendampingan lebih lanjut.
Dalam pembinaannya, Hj. Ida Hariyani, M.Pd. juga menekankan pentingnya administrasi dalam pelaksanaan tugas Guru Wali.
Guru Wali semestinya memiliki buku khusus atau administrasi catatan siswa yang menjadi tanggung jawab pembinaannya.
Administrasi tersebut bukan sekadar kelengkapan dokumen, tetapi dapat menjadi alat bantu bagi guru untuk mengetahui perkembangan siswa secara lebih terarah.
Melalui catatan yang dilakukan secara rutin, guru dapat mendokumentasikan berbagai hal penting terkait peserta didik, seperti hasil komunikasi, perkembangan siswa, permasalahan yang ditemukan, langkah pendampingan yang telah dilakukan, maupun tindak lanjut yang diperlukan.
Dalam kegiatan pembinaan tersebut, Hj. Ida Hariyani, M.Pd. juga memberikan contoh mengenai administrasi dan pencatatan yang dapat digunakan dalam pengelolaan siswa sebagai Guru Wali.
Dengan adanya pencatatan yang baik, proses pendampingan siswa dapat dilakukan secara lebih sistematis dan tidak hanya mengandalkan ingatan guru.
Administrasi tersebut juga dapat membantu ketika diperlukan koordinasi dengan pihak lain, seperti wali kelas, guru BK, orang tua, maupun pihak sekolah.
Salah satu hal yang sangat ditekankan dalam pembinaan adalah pentingnya menciptakan komunikasi yang nyaman antara Guru Wali dan peserta didik.
Guru Wali perlu mendorong siswa agar merasa aman untuk menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi.
Tidak semua siswa mampu menceritakan persoalannya secara langsung. Ada siswa yang terbuka dan mudah bercerita, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan.
Oleh sebab itu, guru perlu menciptakan suasana komunikasi yang tidak menghakimi dan memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Guru Wali dapat menjadi tempat bagi siswa untuk bercerita mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan belajar, hubungan dengan teman, kondisi keluarga, maupun persoalan lain yang memengaruhi kenyamanan dan perkembangan mereka di sekolah.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu siswa merasa bahwa mereka memiliki orang dewasa di lingkungan sekolah yang dapat diajak berkomunikasi ketika menghadapi kesulitan.
Dalam pelaksanaan program Guru Wali, refleksi menjadi salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi peserta didik.
Hj. Ida Hariyani, M.Pd. menyampaikan bahwa refleksi sebagai Guru Wali dapat diberikan kepada seluruh siswa secara berkala, misalnya setiap bulan.
Selain refleksi secara umum, guru juga dapat melakukan pertemuan secara lebih personal dengan beberapa siswa setiap minggu.
Dalam satu minggu, Guru Wali dapat menjadwalkan pertemuan dengan sekitar empat atau lima orang siswa. Pertemuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbicara secara santai, menanyakan perkembangan siswa, mendengarkan cerita mereka, serta mengetahui apakah terdapat kendala yang sedang dihadapi.
Siswa diberikan kesempatan untuk curhat atau menyampaikan persoalan kepada Guru Wali dalam suasana yang nyaman.
Pola komunikasi secara rutin tersebut diharapkan dapat membantu guru mengenali masalah sejak dini. Dengan demikian, apabila ditemukan persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, sekolah dapat segera mengambil langkah yang sesuai.
Dalam pembahasan mengenai pendampingan siswa, kegiatan Home Visit juga menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan.
Home Visit dapat dilakukan ketika terdapat kondisi tertentu yang membutuhkan komunikasi lebih lanjut dengan keluarga siswa.
Namun, pelaksanaan Home Visit perlu dilakukan secara terkoordinasi. Dalam hal ini, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) semestinya menjadi pihak yang mengatur pelaksanaan Home Visit sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Koordinasi antara Guru Wali dan Guru BK menjadi penting agar penanganan siswa dapat dilakukan secara tepat dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Apabila diperlukan keterlibatan orang tua atau wali siswa, komunikasi dengan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses pendampingan.
Dengan adanya kerja sama antara sekolah dan keluarga, diharapkan permasalahan peserta didik dapat dipahami secara lebih menyeluruh dan mendapatkan solusi yang sesuai.
Salah satu pesan penting yang dapat diambil dari pembinaan tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.
Guru perlu memahami bahwa perilaku seorang anak tidak selalu dapat dilihat hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Siswa yang mudah marah mungkin memiliki persoalan tertentu yang belum diketahui. Siswa yang sering diam mungkin membutuhkan perhatian dan ruang komunikasi. Begitu pula siswa yang aktif atau memiliki perilaku tertentu perlu mendapatkan pendekatan yang sesuai.
Karena itu, pendampingan tidak cukup hanya dengan memberikan teguran ketika terjadi kesalahan.
Guru perlu mencari tahu penyebab, memahami kondisi, melakukan komunikasi, kemudian menentukan langkah pendampingan yang tepat.
Pendekatan seperti ini membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Namun, apabila dilakukan dengan baik, Guru Wali dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih positif antara siswa dan sekolah.
Selain program Guru Wali, kegiatan pembinaan juga berkaitan dengan SPMI atau Sistem Penjaminan Mutu Internal.
SPMI menjadi bagian penting dalam upaya sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
Budaya mutu tidak hanya berbicara mengenai pencapaian hasil belajar siswa, tetapi juga mencakup bagaimana seluruh warga sekolah menjalankan tugas dengan baik, melakukan evaluasi, memperbaiki kekurangan, dan terus mencari cara untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Guru sebagai bagian dari warga sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya tersebut.
Pelaksanaan tugas secara profesional, administrasi yang tertib, pembelajaran yang berkualitas, pendampingan siswa, evaluasi, serta tindak lanjut merupakan bagian dari proses membangun mutu sekolah.
Dengan adanya pembinaan dari Pengawas Pembina, sekolah mendapatkan kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap berbagai program yang telah dilaksanakan sekaligus memperkuat hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.
Tugas guru pada dasarnya tidak berhenti ketika kegiatan pembelajaran di kelas selesai.
Guru memiliki peran yang lebih luas sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus pendamping bagi peserta didik.
Sebagai pendidik, guru membantu siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Sebagai pembimbing, guru membantu siswa mengenali potensi dan menghadapi berbagai persoalan. Sementara sebagai pendamping, guru memberikan perhatian terhadap perkembangan siswa agar mereka dapat tumbuh secara optimal.
Program Guru Wali menjadi salah satu bentuk penguatan terhadap peran tersebut.
Dengan adanya Guru Wali, diharapkan tidak ada siswa yang merasa berjalan sendiri ketika menghadapi kesulitan dalam proses pendidikan.
Sekolah berupaya menciptakan sistem pendampingan yang memungkinkan setiap siswa mendapatkan perhatian sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Dalam pembinaan tersebut, Hj. Ida Hariyani, M.Pd. juga memberikan perhatian terhadap persiapan siswa menghadapi TKA (Tes Kemampuan Akademik).
Salah satu keterampilan yang perlu diperkuat adalah kemampuan siswa dalam membaca dan memahami grafik.
Kemampuan membaca grafik bukan hanya berkaitan dengan mata pelajaran tertentu. Keterampilan tersebut merupakan bagian dari kemampuan memahami informasi, membaca data, membandingkan angka, menemukan pola, dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia.
Karena itu, siswa perlu diberikan latihan secara bertahap dan berkelanjutan.
Guru dapat mengintegrasikan latihan membaca grafik ke dalam pembelajaran sehingga siswa terbiasa menghadapi berbagai bentuk penyajian informasi, baik berupa tabel, diagram, maupun grafik.
Dengan pembiasaan tersebut, siswa diharapkan semakin terampil dalam memahami informasi dan menghadapi berbagai bentuk soal yang membutuhkan kemampuan analisis.
Penguatan Guru Wali juga memiliki kaitan erat dengan upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Ketika guru memahami karakter siswa dan memiliki komunikasi yang baik dengan mereka, berbagai persoalan dapat lebih cepat dikenali.
Siswa pun diharapkan merasa lebih nyaman berada di lingkungan sekolah karena memiliki tempat untuk menyampaikan persoalan dan mendapatkan pendampingan.
Hubungan yang baik antara guru dan siswa juga dapat membantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih positif.
Guru dapat mengetahui kebutuhan siswa, sementara siswa memiliki kesempatan untuk mendapatkan dukungan ketika menghadapi tantangan.
Dengan demikian, program Guru Wali bukan hanya menjadi sebuah tugas tambahan, tetapi menjadi bagian dari sistem pendampingan peserta didik yang mendukung kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Budaya mutu di sekolah tidak terbentuk dalam waktu singkat. Budaya tersebut dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten.
Administrasi Guru Wali yang tertib, komunikasi dengan siswa, refleksi rutin, koordinasi dengan Guru BK, pelaksanaan Home Visit sesuai kebutuhan, serta evaluasi terhadap proses pendampingan merupakan contoh kebiasaan yang dapat memperkuat sistem sekolah.
Demikian pula dalam pembelajaran, guru perlu terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar proses pendidikan semakin sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Melalui SPMI, berbagai upaya tersebut dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Seluruh warga sekolah memiliki peran dalam membangun budaya mutu. Bukan hanya kepala sekolah, bukan hanya guru, tetapi seluruh unsur sekolah perlu memiliki kesadaran yang sama untuk memberikan layanan pendidikan terbaik.
Kegiatan pembinaan bersama Pengawas Pembina menjadi ruang penting bagi para guru SMAN 1 Amuntai untuk kembali melihat dan merefleksikan pelaksanaan tugas mereka.
Melalui arahan dan contoh yang diberikan, guru mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana menjalankan program Guru Wali, melakukan pencatatan, membangun komunikasi dengan siswa, serta berkoordinasi dalam penanganan permasalahan peserta didik.
Pembinaan juga menjadi kesempatan untuk menyamakan pemahaman antarpendidik sehingga pelaksanaan program di sekolah dapat berjalan secara lebih terarah.
Hal ini penting karena keberhasilan sebuah program tidak hanya bergantung pada aturan atau administrasi, tetapi juga pada bagaimana program tersebut dipahami dan diterapkan oleh seluruh pihak yang terlibat.
Melalui pembinaan ini, SMAN 1 Amuntai terus berupaya membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga memberikan perhatian terhadap karakter, kebutuhan, dan perkembangan setiap peserta didik.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dapat disampaikan guru, tetapi juga dari seberapa jauh guru mampu mengenal, mendampingi, membimbing, dan membantu peserta didik berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Dengan semangat kolaborasi, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan, SMAN 1 Amuntai berkomitmen untuk terus memperkuat kualitas pendidikan dan membangun budaya mutu demi memberikan layanan terbaik bagi seluruh peserta didik. (smansa/Rini Hartati)
